Showing posts with label pengertian. Show all posts
Showing posts with label pengertian. Show all posts

17 June 2020

Pengertian dan Jenis Pengelasan pada Las Busur

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

       Selamat datang di website mafiaisrul.blogspot.com kali ini kita akan membahas sedikit tentang Pengertian dan Jenis pengelasan pada Las Busur. Nah berikut penjelasan singkatnya…

LAS BUSUR

Pengelasan busur adalah pengelasan dengan memanfaatkan busur listrik yang terjadi antara elektroda dengan benda kerja. Elektroda dipanaskan sampai cair dan diendapkan pada logam yang akan disambung sehingga terbentuk sambungan las. Mula-mula kontak/bersinggungan dengan logam yang dilas sehingga terjadi aliran arus listrik, kemudian elektroda diangkat sedikit sehingga timbullah busur. Panas pada busur bisa mencapai 5.500 oC.

Las busur bisa menggunakan arus searah maupun arus bolak- balik. Mesin arus searah dapat mencapai kemampuan arus 1000 amper pada tegangan terbuka antara 40 sampai 95 Volt. Pada waktu pengelasan tegangan menjadi 18 sampai 40 Volt. Ada 2 jenis polaritas yang digunakan yaitu polaritas langsung dan polaritas terbalik. Pada polaritas langsung elektroda berhubungan dengan terminal negatif sedangkan pada polaritas terbalik elektroda berhubungan dengan terminalpositif.

Jenis bahan elektroda yang banyak digunakan adalah elektroda jenis logam walaupun ada juga jenis elektroda dari bahan karbon namun sudah jarang digunakan. Elektroda berfungsi sebagai logam pengisi pada logam yang dilas sehingga jenis bahan elektroda harus disesuaikan dengan jenis logam yang dilas. Untuk las biasa mutu lasan antara arus searah dengan arus bolak-balik tidak jauh berbeda, namun polaritas sangat berpengaruh terhadap mutu lasan.

Kecepatan pengelasan dan keserbagunaan mesin las arus bolak- balik dan arus searah hampir sama, namun untuk pengelasan logam/pelat tebal, las arus bolak-balok lebih cepat.

Skema las busur dapat dilihat pada gambar 13. dibawah ini.
  

Gambar 13. Skema Nyala Busur

Elektroda yang digunakan pada pengelasan jenis ini ada 3 macam yaitu : elektroda polos, elektroda fluks dan elektroda berlapis tebal. Elektroda polos adalah elektroda tanpa diberi lapisan dan penggunaan elektroda jenis ini terbatas antara lain untuk besi tempa dan baja lunak. Elektroda fluks adalah elektroda yang mempunyai lapisan tipis fluks, dimana fluks ini berguna melarutkan dan mencegah terbentuknya oksida-oksida pada saat pengelasan. Kawat las berlapis tebal paling banyak digunakan terutama pada proses pengelasan komersil.
Lapisan pada elektroda berlapis tebal mempunyai fungsi :
1. Membentuk lingkungan pelindung.
2. Membentuk terak dengan sifat-sifat tertentu untuk melindungi logam cair.
3. Memungkinkan pengelasan pada posisi diatas kepala dan tegak lurus.
4. Menstabilisasi busur.
5. Menambah unsur logam paduan pada logam induk.
6. Memurnika logam secara metalurgi.
7. Mengurangi cipratan logam pengisi.
8. Meningkatkan efisiensi pengendapan.
9. Menghilangkan oksida dan ketidakmurnian.
10. Mempengaruhi kedalaman penetrasi busur.
11. Mempengaruhi bentuk manik.
12. Memperlambat kecepatan pendinginan sambungan las.
13. Menambah logam las yang berasal dari serbuk logam dalm lapisan pelindung.

Fungsi-fungsi yang disebutkan diatas berlaku umum yang artinya belum tentu sebuah elektroda akan mempunyai kesemua sifat tersebut.

Komposisi lapisan elektroda yang digunakan bisa berasal dari bahan organik ataupun bahan anorganik ataupun campurannya.Unsur-unsur utama yang umum digunakan adalah :

1. Unsur pembentuk terak : SiO2 , MnO2 , FeO dan Al2O3.
2. Unsur yang meningkatkan sifat busur : Na2O, CaO, MgO dan TiO2.
3. Unsur deoksidasi : grafit, aluminium dan serbukkayu.
4. Bahan pengikat : natrium silikat, kalium silikat danasbes.
5. Unsur paduan yang meningkatkan kekuatan sambungan las : vanadium, sirkonium, sesium, kobal, molibden, aluminium, nikel, mangan dantungsten.

Berikut ini dijelaskan beberapa jenis pengelasan dengan menggunakan pengelasan busur.

a. Pengelasan Busur Hidrogen Atomik.
Proses pengelasan ini adalah dimana dua elektroda tunsten dialirkan busur arus bolak-balik dan hidrogen dialirkan ke busur tersebut. Ketika hidrogen mengenai busur, molekulnnya pecah menjadi atom yang kemudian bergabung kembali menjadi molekul hidrogen diluar busur. Reaksi ini diiringi oleh pelepasan panas yang bisa mencapai suhu 6100 oC. Logam lasan dapat ditambahkan dama bentuk batang/kawat las. Skema dari pengelasan jenis ini diperlihatkan pada gambar14.
  

Gambar 14. Las busur hidrogen atomik

b. Las Busur Gas dengan Pelindung Gas Mulia
Proses pengelasan ini sambungan dibentuk oleh panas yang ditimbulkan oleh busur yang dibangkitkan diantara elektroda dan benda kerja dimana busur dilindungi oleh gas mulia seperti argon, helium atau bahkan gas CO2 atau campuran gas lainnya.

Ada dua jenis pengelasan dengan cara ini yaitu : las TIG (tungsten inert gas) atau disebut juga pengelasan menggunakan elektroda wolfram dengan logam pengisi, dan las MIG (metal inert gas) atau disebut juga pengelasan menggunakan elektroda terumpan. Kedua jenis pengelasan ini bisa dilakukan secara manual ataupun otomatik serta tidak memerlukan fluks ataupun lapisan kawat las untuk melindungi sambungan.

Las busur yang menggunakan elektroda wolfram (elektroda tak terumpan) dikenal pula dengan sebutan las busur wolfram gas. Skema dari pengelasan jenis ini bisa dilihat pada gambar 15. Pada proses ini las dilindungi oleh selubung gas mulia yang dialirkan melalui pemegang elektroda yang didinginkan dengan air.
  

Gambar 15. Diagram Proses las busur wolfram gas mulia.
Pengelasan ini bisa menggunakan arus bolak-baliok ataupun arus searah, dimana pemilihan tergantung pada jenis logam yang dilas. Arus searah polaritas langsung digunakan untuk pengelasan baja, besi cor, paduan tembaga dan baja tahan karat, sedangkan polaritas terbalik jarang digunakan. Untuk arus bolak-balik banyak digunakan untuk pengelasan aluminium, magnesium, besi cor dan beberapa jenis logam lainnya. Proses ini banyak dilakukan untuk pengelasan pelat tipis karena biayanya akan mahal jika digunakan untuk pengelasan pelat tebal.

Pengelasan las gas mulia elektroda terumpan bisa dilihat pada gambar 16 dimana antara benda kerja dan elektroda terumpan dilindungi dengangas pelindung. Efisiensi pengelasan jenis ini lebih tinggi dan kecepatan pengelasan jauh lebih baik. Pengelasan ini umumnya dilakukan secara otomatik.
  

Gambar 16. diagram las busur gas mulia elektroda terumpan.

Gas karbon dioksida sering digunakan sebagai gas pelindung untuk pengelasan logam baja karbon dan baja paduan rendah.

c. Pengelasan Busur Rendam
Proses pengelasan busur rendam adalah proses pengelasan busur dimana logam cair dilindungi oleh fluks selama pengelasan. Gambar 17. memperlihatkan skema pengelasan busur rendam. Busur listrik yang digunakan untuk mencairkan logam tertutup oleh serbuk fluks yang diberikan disepanjang alur las dan proses pengelasan berlangsung didalam fluks tersebut.
  

Gambar 17. Skema pengelasan busur rendam.

Pada saat pengelasan yang di timbulkan busur tidak hanya mencairkan logam namun juga akan mencairkan sebagian dari fluks dimana fluks cair ini akan terapung diatas logam cair sehingga membentuk lapisan pelindung membentuk terak yang mencegah percikan dan terjadinya oksidasi. Ketika logam dan terak sudah dingin, terak bisa dibuang, serbuk fluks yang tidak terpakai dapt digunakan kembali.

d. Pemotongan dengan Busur Plasma
Pada pengelasan ini, gas dipanaskan oleh busur wolfram hingga suhu sangat tinggi sehingga gas menjadi terion dan menjadi penghantar listrik. Gas dalam kondisi ini disebut plasma. Peralatan didesain sedimikian sehingga gas mengalir ke busur melalui lubang halus sehingga suhu plasma naik dan konsentrasi energi panas pada logam pada area yang kecil akan menyebabkan logam cepat menjadi cair. Ketika gas meninggalkan nosel, gas berkembang dengan cepat dan membawa logam cair, sehingga proses pemotongan bisa berjalan dengan baik. Gambar 18. memperlihatkan skema pemotongan dengan busur plasma.
  

Gambar 18. Skema perbandingan dua proses memotong dengan busur
wolfram gas; A. Pemotongan dengan busur gas helium (non
constricted transfered arc). B. Pemotongan dengan plasma (transferred arc).


Sekian artikel hari ini semoga bermanfaat, dan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan artikel kami. Jangan lupa follow and share ke teman-teman kalian ya,,, terima kasih.

Salam hangat

penulis

13 June 2020

Pengertian dan Jenis Pembakaran

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di website mafiaisrul.blogspot.com kali ini kita akan membahas sedikit tentang Pembakaran dan Jenis Pembakaran. Nah berikut penjelasan singkatnya…

PEMBAKARAN




Pembakaran adalah reaksi kimia redoks eksotermik suhu tinggi antara bahan bakar (reduktor) dan oksigen, biasanya oksigen atmosfer yang menghasilkan produk teroksidasi sering berupa gas, dalam campuran yang disebut asap. Pembakaran tidak selalu menghasilkan api, tetapi ketika terjadi nyala api adalah indikator khas dari reaksi. Sementara energi aktivitas harus diatasi untuk memulai pembakaran  (misalnya, menggunakan korek api menyala untuk menyalakan api), panas dari nyala api dapat memberikan energi yang cukup untuk membuat reaksi mandiri. Pembakaran seringkali merupakan urutan rumit dari reaksi radikal elementer. Bahan bakar padat, seperti kayu da batu bara, pertama-tama menjalani pirolisis endotermik untuk menghasilkan bahan bakar gas yang pembakarannya kemudian memasok panas yang dibutuhkan untuk menghasilkan lebih banyak dari mereka. Pembakaran sering kali cukup panas sehingga cahaya pijar dalm bentuk cahaya atau nyala dihasilkan. Contoh sederhana dapat dilihat dari pembakaran hidrogen dan oksigen menjadi uap air, reaksi yang biasa digunakan untuk bahan bakar mesin roket. Reaksi ini melepaskan 242 KJ / mol panas dan mengurangi entalpi sesuai pada tekanan suhu dan tekanan konstan:

2 H2 (g) + O2 (g)    --->   2 H2O (g)

Pembakaran bahan bakar organik di udara selalu eksotermik karena ikatan rangkap dalam O2  jauh lebih lemah daripada ikatan rangkap lainnya atau pasangan ikatan tunggal, dan oleh karena itu pembentukan ikatan yang lebih kuat dalam produk pembakaran CO2 dan H2O menghasilkan pelepasan energi. Energi ikatan dalam bahan bakar hanya memainkan peran kecil, karena mereka mirip dengan yang ada di produk pembakaran; misalnya, jumlah energi ikatan CH4 hampir sama dengan CO2 . panas pembakaran kira-kira -418 kJ per mol O2 yang digunakan dalam reaksi pembakaran, dan dapat diperkirakan dari komposisi unsur bahan bakar.

Pembakaran tanpa katalis di udara membutuhkan suhu yang relatif tinggi. Pembakaran sempurna adalah stoikiometrik mengenai bahan bakar, di mana tidak ada bahan bakar yang tersisa, dan idealnya, tidak ada oksidan residu. Secara termodinamika, keseimbangan kimia pembakaran di udara sangat di sisi produk. Namun, pembakaran sempurna hampir mustahil untuk dicapai, karena keseimbangan kimia belum tentu tercapai, atau mungkin mengandung produk yang tidak terbakar seperti karbon monoksida, hodrogen, dan bahkan karbon (elaga atau abu). jadi, asap yang dihasilkan biasanya beracun dan mengandung produk yang tidak terbakar atau teroksidasi sebagian. Setiap pembakaran pada suhu tinggi di udara atmosfer, yang merupakan 78 % nitrogen, juga akan menghasilkan sejumlah kecil nitrogen oksida, biasanya disebut sebagai NOx, karena pembakaran nitrogen secara termodinamika lebih disukai pada suhu tinggi, tetapi tidak pada suhu rendah. Karena pembakaran jarang bersih, pembersihan gas buang atau catalytic converter mungkin diperlukan oleh hukum.

Kebakaran teradi secara alami, dipicu oleh sambaran petir atau oleh produk vulkanik. Pembakaran (api) adalah reaksi kimia terkontrol pertama yang ditemukan oleh manusia, dalm bentuk api unggun, dan terus menjadi metode utama untuk menghasilkan energi bagi umat manusia. Biasanya bahan bakarnya adalah karbon, hodrokarbon, atau campuran yang lebih rumit seperti kayu yang mengandung sebagian hodrokarbon teroksidasi. Energi panas yang dihasilkan dari pembakaran baik bahan bakar fosil seperti batu bara atau minyak, atau dari bahan bakar terbarukan seperti kayu bakar, dipanen untuk berbagai keperluan memasak, produksi listrik atau pemanas industri atau domestik. Pembakaran juga merupakan satu-satunya reaksi yang digunakan untuk menyalakan roket. Pembakara juga digunakan untuk menghancurkan limbah, baik yang tidak berbahaya maupun yang berbahaya.

Oksidan untuk pembakaran memiliki potensi oksidasi yang tinggi dan termasuk oksigen di atmosfer atau murni, klor, fluor trifluorida, nitro oksida dan asm nitrat. Sebagai contoh, hidrogen terbakar dalam klor untuk membentuk hodrogen klorida dengan pembebasan panas dan karakteristik cahaya dari pembakaran. Meskipun biasanya tidak dikatalisis, pembakaran dapat dikatalisis oleh platinum atau vanadium, seperti dalam proses kontak.

JENIS PEMBAKARAN

1. Pembakaran Lengkap

                                                     pembakaran metana, hidrokarbon

Dalam pembakaran sempurna, reaktan membakar oksigen dan menghasilkan produk dalam jumlah terbatas. Ketika hidrokaron terbakar dalam oksigen, reaksi utamanya akan menghasilkan karbon dioksida dan air. Ketika elemen dibakar, produknya adalah oksida yang paling umum. Karbon akan menghasilkan karbon dioksida, sulfur akan menghasilkan sulfur dioksida, dan besi akan menghasilkan besi (lll) oksida. Nitrogen tidak dianggap sebagai zat yang mudah terbakar ketika oksigen adalah oksidan. Namun sejumlah kecil berbagai oksida nitrogen (biasanya disebut NOx spesies) terbentuk ketika udara adalah oksidan.

Pembakaran belum tentu menguntungkan untuk tingkat oksidasi maksimum, dan itu bisa bergantung pada suhu. Misalnya, belerang trioksida tidak diproduksi secara kuantitatif oleh pembakaran belerang. Spesies NOx muncul dalam jumlah yang signifikan di atas sekitar 2.800 ° F (1.540 ° C), dan lebih banyak diproduksi pada suhu yang lebih tinggi. Jumlah NOx juga merupakan fungsi dari kelebihan oksigen.

Dalam sebagian besar aplikasi industri dan kebakaran, udara adalah sumber oksigen (O2). Di udara, setiap mol oksigen di campur dengan kira-kira 3,71 mol nitrogen. Nitrogen tidak berperan dalam pembakaran, tetapi pada suhu tinggi beberapa nitrogen akan dikonversi menjadi NOx kebanyakan tidak, namun jumlah NO yang jauh lebih kecil). di sisi lain, ketika ada oksigen yang tidak cukup untuk membakar bahan bakar sepenuhnya, beberapa bahan bakar karbon dikonversi menjadi karbon monoksida, dan beberapa hidrogen tetap tidak bereaksi. Satu set lengkap persamaan untuk pembakaran hidrokarbon di udara, oleh karena itu, memerlukan perhitungan tambahan untuk distribusi oksigen antara karbon dan hidrogen dalam bahan bakar.

Jumlah udara yang dibutuhkan untuk pembakaran sempurna untuk terjadi dikenal sebagai udara murni. Namun, dalam praktiknya, udara yang digunakan adalah 2-3x dari udara murni.

2. Pembakaran tidak lengkap

Pembakaran tidak sempurna akan terjadi ketika tidak ada cukup oksigen untuk memungkinkan bahan bakar bereaksi sepenuhnya untuk menghasilkan karbon dioksida dan air. Ini juga terjadi ketika pembakaran didinginkan oleh pendingin, seperti permukaan padat atau perangkap api. Seperti halnya dengan pembakaran sempurna, air dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna; namun, karbon, karbon monoksida, dan hidroksida diproduksi sebagai pengganti karbon dioksida.

Untuk sebagian besar bahan bakar, seperti minyak diesel, batu bara, atau kayu, pirolisis terjadi sebelum pembakaran. Dalam pembakaran yang tidak lengkap, produk pirolisis tetap tidak terbakar dan mengkontaminasi asap dengan bahan dan gas partikulat berbahaya. Senyawa teroksidasi sebagian juga menjadi perhatian; oksidasi parsial etanol dapat menghasilkan asetaldehida berbahaya, dan karbon dapat menghasilkan karbon monoksida beracun.

Desain perangkat pembakaran dapat meningkatkan kualitas pembakaran, seperti burner dan mesin pembakaran internal. Perbaikan lebih lanjut dapat dicapi dengan perangkat setelah pembakaran katalitik (seperti catalityc konverter) atau dengan pengembalian parsial gas buang yang sederhana ke dalam proses pembakaran. Perangkat semacam itu diperlukan oleh undang-undang lingkungan untuk mobil di sebagian besar negara. Mereka mungkin diperlukan untuk memungkikan perngkat pembakar besar, seperti pembagkit listrik termal, untuk mencapai standar emisi hukum.

Tingkat pembakaran dapat diukur dan dianalisis dengan peralatan uji. Kontraktor, pemadam kebakaran, dan insinyur HVAC menggunakan alat analisis pembakaran untuk menguji efisiensi burner selama proses pembakaran. Juga, efisiensi mesin pembakaran internal dapat diukur dengan cara ini, dan beberapa negara bagian AS dan kota setempat menggunakan analisis pembakaran untuk menentukan dan menilai efisiensi kendaraan di jalan saat ini.

Pembakaran tidak sempurna menghasilkan karbon monoksida
Karbon monoksida adalah salah satu produk dari pembakaran tidak sempurna. Karbon dilepaskan dalam reaksi pembakaran tidak lengkap normal, membentuk jelaga dan debu. Karena karbon monoksida dianggap sebagai gas beracun, pembakaran sempurna lebih disukai, karena karbon monoksida juga dapat menyebabkan masalah pernapasan saat dihirup karena mengambil oksigen dan bergabung dengan hemoglobin.

Masalah yang terkait dengan pembakaran tidak lengkap
1. Masalah lingkugan

Oksida-oksida ini bergabung dengan air dan oksigen di atmosfer, menciptakn asm nitrat dan asam sulfat, yang kembali ke permukaan bumi sebagai pengendapan asam, atau "hujan asam." Endapan asam merusak organisme akuatik dan membunuh pohon. Karena pembentukan nutrisi tertentu yang kurang tersedia untuk tanaman seperti kalsium dan fosfor, itu mengurangi produktivitas ekosistem dan pertanian. Masalah tambahan yang terkait dengan nitrogen oksida adalah bahwa mereka, bersama dengan polutan hidrokarbon, berkontribusi pada pementukan ozon troposferik, komponen utama kabut asap.

2. Masalah kesehatan manusia

Breathing carbon monoxide menyebabkan sakit kepala, pusing, muntah, dan mual. Jika kadar karbon monoksida cukup tinggi, manusia menjadi tidak sadar atau mati. Paparan karbon monoksida tingkat sedang dan tinggi dalam jangka waktu lama berkorelasi positif dengan risiko penyakit jantung. Orang yang selamat dari keracunan karbon monoksida yang parah dapat menderita masalah kesehatan jangka panjang. Karbon monoksida dari udara diserap di paru-paru yang kemudian berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah manusia. Ini akan mengurangi kapasitas sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.


Sekian artikel hari ini semoga bermanfaat, dan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan artikel kami. Jangan lupa follow and share ke teman-teman kalian ya,,, terima kasih.

Salam hangat

penulis

12 June 2020

Pengertian Pengelasan OAW Oksigen Asetilen Welding

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

       Selamat datang di website mafiaisrul.blogspot.com kali ini kita akan membahas sedikit tentang Pengelasan Oksigen Asetilen Welding, peralatan, cara kerja, serta kelebihan dan kekurangannya. Nah berikut penjelasan singkatnya…


PENGERTIAN PENGELASAN ( OAW ) OKSIGEN ASETILEN WELDING






Oksigen Asetilen Welding adalah suatu proses pengelasa gas yang menggunakan sumber panas nyala api melalui pembakaran gas oksigen dan gas asetilen untuk mencairkan logam dan bahan tambah. Dalam pengelasan OAW ini biasanya digunakan hanya untuk plat-plat tipis, hal ini dikarenakan sambungan las Oxigen Acetyline ini mempunyai kekuatan yang rendah dibandingkan las busur listrik.

Las OAW ini juga dapat digunakan untuk pemanasan atau pemotongan, namun alat yang digunakan berbeda. Untuk pemotongan menggunakan torch yang ada katub gas potong, sedangkan untuk pengelasan atau pemanasan menggunakan welding gun tanpa katub gas potong. Untuk Anda yang ingin mengetahui skema mesin las OAW, sebenarnya OAW tidak menggunakan mesin melainkan peralatan 1 set las oaw berikut ini penjelasannya.


PERALATAN MESIN LAS OAW (OXYGEN ACETYLENE WELDING)

1. Tabung Gas Oksigen
Tabung oksigen adalah tempat menyimpan gas oksigen, pada tabung ini akan diisi gas oksigen yang digunakan untuk proses pengelasan yang kemudian akan disambung dengan regulator dan slang yang menuju ke Welding Torch. Untuk tabung gas Oksigen ini berwarna biru atau hijau.

2. Tabung Gas Asetilen
Tabung Gas Asetilen adalah tempat menyimpan gas asetilen, saat proses pengelasan regulator dibuka. Setelah itu gas akan otomatis keluar melalui slang gas yang terhubung ke welding torch. Tabung gas Asetilen ini mempunyai warna merah atau orange.

3. Regulator Gas Oksigen
Regulator tabuing gas oksigen adalah alat yang digunakan untuk mengontrol tekanan keluarnya gas oksigen yang ada pada slang gas ke welding torch. Selain itu regulator juga digunakan untuk melihat isi gas pada tabung gas oksigen. Sama dengan warna tabung gas oksigen, regulator oksigen juga berwarna biru atau hijau.

4. Regulator Gas Esetilen
Regulator Asetilen adalah alat yang digunakan untuk melihat tekanan isi dan tekanan kerja atau keluarnya gas asetilen yang ada dalam slang ketika digunakan untuk mengelas. Fungsinya sama dengan regulator oksigen, namun yang membedakan hanya penggunaan pada gasnya. Untuk warna regulator asetilen ini mempunyai warna merah atau orange sama dengan tabungnya.

5. Slang Gas OAW
Slang gas OAW adalah slang yang digunakan untuk mengalirkan gas dari tabuing gas ke welding torch saat proses pengelasan. Warna slang gas ini juga sesuai dengan warna tabung gasnya.

6. Welding Torch (Brander Las)
Welding Torch adalah tempat untuk mencampur gas oksigen dan asetilen pada saat proses pengelasan, pada welding torch ini terdapat katub atau pengatur keluarnya gas oksigen dan asetilen. Sedangkan untuk torch yang pemotongan mempunyai tambahan untuk katub gas pemotongan.

7. Welding Nozzle
Welding Nozzle adalah ujung dari bagian welding torch yang mempunyai lubang sebagai tempat keluarnya percampuran antara gas oksigen dan asetilen. Welding nozzle ini dapat diganti jika ingin dirubah diameter lubangnya sesuai dengan kebutuhan.

8. Welding Rod (Filter Metal)
Welding Rod adalah bahan tambah yang digunakan untuk proses pengelasan OAW, bahan dari filler metal ini disesuaikan dengan jenis material yang akan dilas. Biasanya welding rod berbentuk kawat yang digulung, namun jika akan digunakan untuk pengelasan dipotong sepanjang 1 meter biar lebih mudah.


CARA PENYALAAN DAN PEMATIAN LAS OAW

Cara menyalakan las OAW :
1. Buka katub gas asetilen pada Brander Las.
2. Buka katub Oksigen pada Brander Las.
3. Kemudian Biarkan < 5 detik beri percikan api dengan pematik.
4. Atur nyala api Las

Cara mematikan api las OAW:
1. Langkah pertama tutup katub gas asetilen pada Welding Torch.
2. Tutup katub Oksigen (O2) pada Brander Las.
3. Tutup katub pada Regulator Oksigen dan Asetilen.
4. Langkah yang terakhir buang gas yang tersisa pada selang dengan membuka katub pada brander las lalu tutup kembali. Karena jika tidak dibuang maka dapat menyebabkan kebakaran karena adanya gas yang tersisa.


TEKANAN GAS OAW

Tekanan Gas untuk Pengelasan OAW :
Oksigen sebesar 2 – 3 Bar
Asetilen sebesar 0.5 Bar
Tekanan gas untuk Pemotongan Oksigen Asetilen :
Oksigen sebesar 5 Bar
Asetilen sebesar 0.5 Bar


KELEBIHAN DAN KEKURANGAN LAS OAW

Kelebihan Las OAW:
Ø Jika ada pengelasan yang salah dapat dicarikan kembali dengan nyala api oksigen Asetilen
Ø Dapt digunakan pada plat tipis
Ø Peralatan tidak terlalu banyak

Kekurangan Las OAW:
Ø Jika digunakan plat tebal kekuatannya kurang maksimal.
Ø Pengelasan manual sehingga efisiensi dan kecepatan las kurang.
Ø Sangat jarang digunakan untuk pengelasan non logam atau baja tahan karat.

Sekian artikel hari ini semoga bermanfaat, dan mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan artikel kami. Jangan lupa follow and share ke teman-teman kalian ya,,, terima kasih.

Salam hangat

penulis